Samir Khan..

jihadis media..ah sungguh tulisan itu mampu menggetarkan hati seseorang (dengan izin Allah) untuk bergerak, berdakwah, bahkan berjihad bertaruh nyawa.

Samir Khan, atau yang dalam dunia jihad global lebih dikenal dengan nama Inshaallahshaheed.

Image

“I am Proud to be a traitor to America”, sebuah judul subtopik yang diangkat di majalah INSPIRE edisi 2.

 

Nasehat Terakhir Samir Khan Tentang Pertarungan Media

Sekelumit Penjelasan atas Tulisan Terakhir Samir Khan tentang Pertarungan Media[1]

 

Oleh: Ustadz Fuad Al Hazimi

 

VOA-ISLAM.COM – Samir Khan, dalam inspire magazine Volume VII Spring 2011, kalau tidak salah ini adalah tulisan terakhir beliau sebelum syahid. Dan jika bukan karena berbahaya Samir Khan bagi Amerika tidak mungkin beliau dibunuh.

Mari kita lihat bagaimana nasehat yang diucapkan dan ditulis dengan darah penulisnya yang berjudul The Media Conflict(pertarungan media).

 

I remember his advice being spot-on as I stood there nearly two years ago in front of AQAP’s Amir, Shaykh Abu Bashir Al Wuhaisyi, may Allah preserve him. “Remember,” he said as other mujahidin were busy working on their computers in the background. “The media work is half of the jihad.

 

He was repeating the words of Shaykh Usama; words that reminded me of an unspoken of world that has shaped the lives of millions of people across the globe thanks to a few people on their computers and the men who fulfill their promises to Allah.  

 

“Aku teringat akan sebuah nasehat yang sangat berkesan hampir dua tahun yang lalu di saat aku berdiri di depan Amir AQAP, Syekh Abu Bashir Al Wuhaisyi, semoga Allah melindunginya. “Ingat,” ujarnya sementara di latar belakang  nampak para mujahidin lainnya sedang sibuk bekerja di depan komputer mereka. “Pekerjaan Media Adalah Setengah Dari Jihad.“

 

Beliau mengulangi kata-kata Syaikh Usamah bin Laden, kata-kata yang mengingatkan saya akan sebuah dunia yang tak terkatakan yang telah membentuk kehidupan jutaan orang di seluruh dunia berkat beberapa orang di depan komputer mereka dan orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.”

 

Kita belum pernah bertemu dengan orang-orang itu, tetapi siapa menyampaikannya? Hanya beberapa orang di depan komputer kemudian merubah pola pikir, pola gerak, pola hidup jutaan orang.

 

مَنْ دَلَّ عَلَى الخَيْرِ فَلَهُ مِثْلُ اَجْرُ فَاعِلِهِ

 

Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya. (H.R. Tirmizi).

 

Back in America, I knew the media jihad was important to the mujahidin; but I just wasn’t able to put my finger on how im¬portant it was to them. Just then a brother intervened and confirmed, “A powerful media production is as hard hitting as an operation in America.

 

“Kembali tentang Amerika, saya tahu bahwa media jihad sangat penting bagi mujahidin, hanya saja saya belum bisa memastikan seberapa penting ini bagi mereka. Sampai saat seorang ikhwan menjelaskan kepada saya dengan penuh keyakinan : “Sebuah produksi media yang penuh kekuatan, itu sama seperti sebuah operasi serangan kepada Amerika”

 

And although the mujahidin are considered to be the underdogs in the war, it goes without saying that we have thrown something at America and her allies which they will forever be stuck with; Tony Blair rightfully de¬scribed that in his interview with the BBC when discussing the war against the mujahidin. “We have learned how to fight it but we haven’t destroyed its ideology,” he said.

 

“Meski para mujahidin pun menyadari bahwa mereka dalam posisi underdog pada peperangan ini, namun semua terus berjalan tanpa perlu diucapkan lagi bahwa sebenarnya kita telah melemparkan sesuatu kepada Amerika dan sekutunya yang akan terus menempel pada mereka. Tony Blair dengan tepat mendeskripsikan hal ini dalam wawancara dengan BBC saat mendiskusikan tentang perang melawan mujahidin : “Kita telah mempelajari bagaimana memeranginya tetapi kita belum dapat menghancurkan ideologinya” katanya.”

 

Itulah ciri dienul Islam sebagaimana yang dikatakan para ulama. Islam tidak bergantung pada Nabi Muhammad, Islam tidak bergantung pada Abu Bakar, Umar, bahkan Islam tidak bergantung pada seluruh mahluk ini. Karena Allah akan tetap memenangkan Islam, baik kita berkontribusi atau kita tidak peduli sekalipun. Kalau kita tidak membela dien kita, maka akan diganti oleh generasi baru yang mau membela dien kita.

 

The cred¬ible ideas that we bring is what in¬timidates them the most. People may be susceptible to an end, but ideas are bulletproof and have an outstanding lifespan.

 

The events of September left America in a bottomless predica¬ment, forcing it to shoot at some-thing that doesn’t die.

 

“Ide-ide terpercaya yang kita bawa itulah yang paling  mengintimidasi mereka. Orang tentu akan mengalami suatu akhir (kematian), tapi ide dan pemikiran itu tahan peluru dan mampu bertahan hidup dalam waktu yang amat lama. Peristiwa 11 September meninggalkan Amerika dalam keadaan tanpa dasar, memaksanya untuk menembak sesuatu yang tidak akan mati.”

 

Allah yang telah memerintahkan kita untuk membela Islam, Allah pula yang menjamin bahwa Islam akan tetap hidup, sementara musuh Allah ingin menjadikan Islam itu mati.

 

There were namely three things that the brothers focused on in their media efforts: quality and content of productions, Internet security and a media dissemination strategy.

 

While America was focused on battling our mujahidin in the mountains of Afghanistan and the streets of Iraq, the jihadi media and its supporters were in fifth gear. Thousands of productions were produced and dispersed to both the net and real world. Something that was produced thousands of feet above in the mountains of Afghanistan was found distributed in the streets of London and California. Ideas that disseminated from the lips of the mujahidin’s leaders were carried out in Madrid and Times Square.

 

“Ada tiga hal yang menjadi fokus para mujahidi pada media mereka yaitu : Kualitas dan isi produksi, keamanan Internet dan strategi penyebaran media

 

Di saat  Amerika fokus memerangi mujahidin kita di pegunungan Afghanistan dan jalan-jalan di Irak, media jihad dan pendukungnya berada pada  gigi lima (kecepatan tinggi). Ribuan produk media Jihad diproduksi dan tersebar baik melalui internet maupun dunia nyata. Sesuatu yang dihasilkan ribuan meter di atas pegunungan Afghanistan akan didapati telah didistribusikan di jalan-jalan London dan California. Ide-ide yang disebarluaskan dari bibir pemimpin mujahidin, ternyata telah tersebar di Madrid dan Times Square.”

 

Maka, muncullah apa yang disebut the lone wolf[2]. Bahkan dalam majalah Inspire ke 11 dikatakan, selama produk bangunan dan bahan-bahan dapur masih legal, selama itu tidak akan bisa dibendung the lone wolf.

 

Jadi apa yang diinginkan dari sebuah berita? Bukan dampak fisik, tetapi dampak psikologis. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

 

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ عَلَى عَدُوِّي

 

Aku ditolong dengan ditimpakannya rasa takut dalam hati musuh-musuhku selama perjalanan satu bulan. (H.R. Bukhari).

 

Former CIA agent Michael Scheuer said regarding al Qaeda on al- Jazeera’s “The Image War”: “Their propaganda beats us to hell every time, every time. We’re not even in the same league with them.”

 

“Michael Scheuer mantan agen CIA mengomentari  film “The Image War”, sebuah film dokumenter  tentang Al Qaeda yang ditayangkan di stasiun TV Al Jazeera, ia mengatakan : “Propaganda mereka membuat kita terjungkal ke dalam neraka, setiap waktu setiap saat. Kita bahkan tidak sedang bermain di liga yang sama.” [Ahmed Widad]

 

 


 

[1] Tulisan ini merupakan resume dari ceramah ustadz Fuad Al Hazimi dengan tema Urgensi Media dalam Jihad Global

 

[2] Sebutan bagi mujahid yang melakukan aksi jihad fardhiy (secara sendirian)

Advertisements

Pikiran Teknologi

Kacanya transparan, dari dalam kereta, kita bisa lihat keluar. Hujan. Ia membasahi kaca kereta dari luar. Pemandangan pun menjadi tak nampak jelas. Namun hangat terasa di dalam. Kereta eksekutif yang kupesan, hmm berbeda memang.

“Tahu apa kamu soal bangsa ini?”

“Apa yang salah? Kita bangun teknologi, aku akan mengusulkan ke Abi untuk lebih menekankan kurikulum pesantren untuk bisa menyaingi teknologi negara barat, sehingga kita tak perlu mengemis atau dibodohi tuk selalu membeli teknologi mereka. Aku yakin, kita bisa mandiri dengan itu!”

“Hahaha..”

“Apa yang kau tertawakan??” Aku pun kesal dengan sikap Fahim yang sepertinya kontra dengan pendapatku.

“Kok melengos ?”

“Ngga kok. Lalu apa alasanmu menolak argumenku tadi?”

“Dirar, pemikir Indonesia itu selalu berpikir. Bagaimana merubah Indonesia, kenapa bisa bobrok seperti ini. Negara kaya kok jadi negara miskin, kenapa ini?”

“Ya.. karena kita selama ini hanya membeli teknologi barat, membeli dengan uang yang mereka pinjamkan. Kita dibodohi karena kita miskin teknologi. “

“Jadi menurutmu, kita gencarkan teknologi tak hanya di sekolah negeri, tapi juga perlu digencarkan di semua pesantren? Hahaha..“


Sungguh tertawanya membingungkanku, ekspresi wajahnya tak bisa ditebak.

“Itu misiku Him, ada yang salah?”

Hujan turun begitu derasnya. Suaranya mengganggu pembicaraan kami. Aku menyeruput the manis hangat yang kupesan tadi.
Kita rendah karena teknologi, dan bisa menjadi besar pun karena teknologi (pikirku mendalam).

“Dirar. Kamu tau? Pemikir-pemikir Indonesia itu sudah berpikir tho? Semua aturan sudah dipraktekkan. Semua pemikiran sudah dicoba. Namun apa hasilnya?”

Aku membiarkan pertanyaan itu, yang menurutku hanya pertanyaan retoris. Hingga hening beberapa saat.

“Akar masalah ini semua, kamu tau apa? Bukan pada teknologi.. Tapi sebenarnya kerusakan ada pada mental mereka, ada pada akidah mereka..”

“Akidah kita kuat, Islam, the best way of life. Jumlah kita pun sudah banyak. Demografi umat Islam dunia terus meningkat.”

“Siapa bilang?? Akidah kita lemah! Makanya bobrok semua!”
Ekspresi ini sangat kupahami, kesal, amat kesal bercampur marah, namun..

“Banyak masalah dalam pendidikan kita, banyak masalah dengan mental2 kita. Mau tau cerminan bagaimana akidah kita? Menangis saya Rar, melihat malam tahun baru kemarin dari berita2 di media. Hiruk pikuk mereka itu, siapa mereka? Kebanyakan orang Islam! Menunggu jam 12 malam, ngapain? Demi nyalain petasan! Banyak orang Islam terlibat sampe bermacet-macet di jalanan. Ini jelas menunjukkan, akidahnya masi h lemah..!”

“Kok sewot gitu Him?”. Entah kenapa tiba-tiba saja intonasi bicara Fahim meningkat. Lelaki yang duduk di sebelah Fahim pun mengernyitkan dahi.

“Saya sedih Rar, banyak orang masih berpikiran seperti kamu. Lebih-lebih kamu, anak pemilik pondok pesantren. Kalau bukan kita yang membenahi akidah bangsa ini, yang notabene dipahamkan agama sedari kecil, lantas siapa?”

“Kenapa kamu jadi memarginalkan kebutuhan akan teknologi?”

“Kalau bicara teknologi. Cukup. Kamu tau? Habibie kemarin nangis, karena 30ribu anak Indonesia, yang lulus pendidikan tinggi, mereka pindah keluar negeri, mencari nafkah di tempat lain. Karena Indonesia tidak bisa menampung mereka.”

“Seorang professor ahli di bidang teknologi, gajinya cuma 3juta. Bisa apa dia dengan uang segitu??” , sambungnya.

“Makanya, kita bentuk kader2 berakidah Islam untuk juga mempelajari teknologi..! Bukannya begitu??”. Aku pun terbawa hawa pembicaraan yang makin menaik suhunya.

“Oke, begini..Lihat urgensinya Rar. Tadi kamu bilang teknologi yang akan menjadi fokusmu. Jika begitu, ilmuwan yang kita miliki banyak . Kamu tau? Sekitar 40% ilmuwan di amerika eropa itu muslim. Kalau ssaja 40% itu mempunyai jiwa Islam, yang memperjuangkan Islam. Akan terjadi perubahan yang tidak bsia kita perkirakan. Tetapi kebanyakan mereka hanya cari hidup, cari aman, untuk mengembangkan ilmunya, bukan untuk Islam. Mereka tidak sadar untuk memperjuangkan Islam, dan itu yang harus kita sadarkan. Dan itu masalah akidah.”
“Oke, hmm..”. Merilekskan dahiku.

“Kalau mereka bener akidahnya, mereka akan menggunakan ilmunya untuk memperjuangkan akidahnya. Tidak perlu pesantren2 dimasukkan teknologi yang tinggi semuanya. Tetapi yang diperlukan, adalah menampung orang2 yang memiliki kemampuan teknologi itu, agar mempunyai jiwa Islam. “

“Dan satu hal Dirar. Pengkotak-kotakan untuk mengumpulkan mereka yang serumpun namun berlainan akidah tak kan menciptakan persaudaraan. Innamal mu’minuuna ikhwah. Hanya orang-orang mukminlah yang bersaudara. ”

Entah..(pikirku)

Aku menyaksikan Fahim kembali mengalihkan pandangnya, kembali tenggelam dalam bukunya.

Emosi yang terjaga, dan dijaga dengan baik, gumamku.

Aku kembali menatap kaca kereta yang masih terguyur hujan, tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Akidah. Umat ini, kini, meski tampak luar begitu banyak nan besar.

Jika berpondasi rapuh, atau bahkan bisa kukatakan, berpondasikan air keruh. Apa jadinya?

Tenggelam dalam kehinaan. Dan..

Innamal mu’minuuna ikhwah. Teringat kembali nahwu sharaf zaman dulu. Inna + ma tak kan menghasilkan arti ‘sesungguhnya’, ia kan bermakna ‘hanya’.

Hanya orang-orang mukmin yang bersaudara.

Ah, kakakku. Mengapa argumenmu selalu lebih logis, lebih matang, dan lebih lebih.