Hidupkan Persepsi (?)

Bismillaah…

Persepsi itu seringkali menjebak manusia.
Jika ia tidak berdasarkan syariat Allah, maka itu persepsi yang salah, tinggalkan.

Semua syariat Allah itu membawa kebaikan seluruhnya kepada manusia.
Dan semua yang bertentangan dengan syariat Allah, maka pasti membawa keburukan bagi manusia.

***

Ini entah imajinasiku yang tinggi atau ketakutanku yang berlebihan.

***

Di suatu sore, ya sekitar jam4. Waktunya prepare makanan untuk berbuka puasa. Bantu2 ibu di dapur lah, itung2 belajar jadi seorang perempuan seutuhnya (baca: seorang ibu)..hoho

Ibu : an..bantu2 sini masak
Aku : ya bu…

Aku lagi nyiapin bumbu2 masakan tepat seperti komando ibuku..
Aku : bu..kalo aku kuliah smbil bisnis boleh ngga bu?
Ibu : boleh..asal ngga ganggu kuliahmu. Keluargamu itu keluarga bisnis tahu ngga..
Aku : hmm…

(dalam hati : alhamdulillah)

Sekarang ngiris2 bawang sama cabe.
Aku : bu..boleh ngga aku nentuin satu jalan hidupku sendiri untuk satu hal ini?
Ibu : maksudnya?
Aku : ya..aku selama ini enjoy aja sebenernya ngelakuin apa2 yg disuka dan diperintah ibu. Aku selalu berusaha mikir aku harus buat ibu seneng dengan tindak tandukku.
Ibu : terus?
Ana : bu..aku pengin nikah pas kuliah.

Hening..

Ibu : kamu mikir apa sih?
Aku : aku mau ngerintis  bisnis sama suamiku nanti bu..
ibu : kamu itu masih kecil. Nikah itu bukan persoalan sepele..
Aku : aku tau bu.
Ibu : tau apa kamu? Udah, kamu dikuliahin di ITB itu biar setelah lulus, kerja, ngumpulin uang dulu, beli rumah dulu, bahagiain orang tua dulu, baru nikah.

(Nyesek banget denger jawaban itu)

***

Islam itu mudah.
Islam itu sederhana.
Islam itu membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia dan pemikiran2 manusia yang penuh kelemahan kepada PENGHAMBAAN KEPADA ALLAH SAJA.

***

Mengubah persepsi seseorang itu seni komunikasi.
Kita berusaha, harus…!
Tapi ingat, Allah pemilik hati² ini. Allah Maha Membolak-balik hati.
Maka? Rayu pemilik hati manusia agar pintu hati itu terbuka

Apa ada yang salah dengan persepsi di atas?
Ibadah itu harus disegerakan.
Ukuran kesuksesan manusia itu adalah seteguh apa ia mampu melaksanakan syariat Islam, bukan yang lain.
Kekayaan, jabatan, kedudukan yang diberikan kepada manusia akan berharga jika di mata Allah ia pun berharga. Jika benar penilaian2 itu, mengapa orang kafir pun bisa mendapat hal yang sama? Adakah ia berharga?

***

Ini bukan (hanya) tentang menyalahkan persepsi2 yang salah.
Lebih jauh. Yakni bagaimana menyadari jerat2 halus kesalahan persepsi manusia kebanyakan.
Jauhkan sikap opportunis dan pragmatis yg ada dalam diri untuk jernih dalam melihat keadaan…
Adakah ini telah menandingi syariat Allah?

Dan di sisi lain.
Sadari siapa kita, siapa orang kedua itu?
Syariat pun mengatur bagaimana bersikap dengan orang lain.

Terhadap orang tua? Jangan meninggikan nada bicara, jangan menolak perintahnya(jika masih dalam koridor), apalagi berkata kasar!
Ketika ini dilanggar, maka satu dosa besar telah dicatat oleh malaikat.
Dan apa?
Adakah persepsi mu akan mulus masuk ke relung hati mereka?
Pikirkan..

Terhadap sepantaran?
Sejauh apa kepahaman dan ketundukan ia akan syariat agama ini?
Perlakuan, tahap penjelasan dan deskripsi persepsi ini bisa berbeda.
Yang menjadi kaidah adalah…jangan menyakiti hati seorang muslim…
Gimana caranya?
Jaga kehormatannya.
Jika kesalahannya hanya di hadapanmu..yang diperlukan misalnya? tepukan pundak lalu obrolan 4 mata..
Jika di hadapan umum? Jika cara pertama tidak ampuh untuk mmbuat ia mengoreksi ksalahan itu di publik. Paparkan di publik apa yang menjadi kesalahannya..

***

Adakah ini mudah?
Sungguh…jika mudah, ramai sudah orang menjadi “Pelurus Persepsi”..

Ya, ini sulit…
Namun ganjaran bagi mereka yang BERUSAHA sungguhlah indah..

Adakah engkau sadar..?
Apa kata ganti dari persepsi? Siapakah “Pelurus Persepsi” itu?
(Ini hanya nalar bahasa Indonesia, agar lebih meresap, bukan untuk mengesampingkan makna)

Aqidah.
Pengembannya adalah utusan Allah.
Bukankah utusan Allah diutus dengan tujuan untuk mengajak manusia agar menghamba kepada Allah semata?
Agar hanya Allah yang menjadi dasar bertindak. Agar hanya ketundukan kepada Allah yang menjadi persepsinya.

Hidupkan aqidah yang benar.
Hidupkan persepsi yang benar.

***
Maaf jika artikel ini minim sumber dan catatan kaki. Ini hanyalah kesimpulan dari sumber2 ilmu yang kuperoleh dari pengajian2, al-Qur’an, dan buku “Enjoy Your Life” syaikh Al Ariefi.
Dan ilustrasi di atas adalah fiktif.

***

Allahua’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s