Hadis Qudsi ini . . .

WAHAI ANAK ADAM SELAMA ENGKAU MASIH BERDOA KEPADA-KU DAN BERHARAP KEPADA-KU, AKU AMPUNI ENGKAU APA PUN YANG DATANG DARIMU DAN AKU TIDAK PEDULI.
WAHAI ANAK ADAM WALAUPUN DOSA-DOSAMU MENCAPAI BATAS LANGIT KEMUDIAN ENGKAU MEMINTA AMPUN KEPADA-KU, AKU AKAN AMPUNI ENGKAU DAN AKU TIDAK PEDULI.
WAHAI ANAK ADAM, JIKA ENGKAU MENDATANGI-KU DENGAN SEPENUH BUMI DOSA DAN ENGKAU TIDAK MENYEKUTUKAN-KU, MAKA AKU AKAN MENEMUIMU DENGAN SEPENUH ITU PULA AMPUNAN.

(Hadits Riwayat Tarmidzi)

ngga banyak komentar,

sungguh ini hadis yang indah banget. . .

Kisah Gadis Kecil yang Shalihah

Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.

Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.

Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang perpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma’ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.

Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.

Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:

Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: “Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”

Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: “Mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam.” Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.

Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.

Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?

Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: “Sakit ringan di kakiku.” Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: “Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah.” Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.

Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.

Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata: “Alhamdulillah… alhamdulillah… alhamdulillah.” Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: “Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku.”

Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!

Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!

Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.

Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: “Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku.”

Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: “Apakah engkau seorang muslimah?” Dia menjawab: “Tidak.”

Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.

Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orang tuanya.

Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: “Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna.” Temanku tersebut berkata: “Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati.”

Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!

Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.

Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu` dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!

Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.

Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.

Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: “Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat.” Kukatakan: “(Mimpi) yang baik Insya Allah.” Dia berkata: “Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi.”

Akupun bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut.” Dia menjawab: “Aku menyangka, bahwasannya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku.” Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.

Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: “Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: “Aku ingin mencium pipimu yang kedua.” Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: “Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah.”

Maka dia berkata: “Asyhadu alla ilaaha illallah.”

Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallaah.” Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” Dan keluarlah rohnya.

Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil ‘aalamin. (AR)*

[Sumber: www.qiblati.com, dinukil dari Majalah Qiblati edisi 4 Tahun 3]

Penyimpangan Gerakan Dakwah

Di bawah ini adalah sebuah artikel oleh Al Ustadz Abu Ridho yang dikirimkan oleh seorang ikhwah, yang memaparkan beberapa kaidah-kaidah dalam dakwah, penyimpangan terhadap kaidah-kaidah tersebut. Semoga penulis artikel ini senantiasa mengingat terhadap artikel yang ia pernah menulisnya, dan istiqomah dengan apa yang ia sampaikan di dalam artikel ini.

—-

Alhamdulillah gerakan da’wah ini di Indonesia ini telah mencapai usia seperempat abad. Suatu usia yang tidak bisa lagi dipandang anak. Ia telah dewasa dan melebihi usia baligh. Oleh karenanya, setiap muncul permasalahan yang menyangkut kehidupan gerakan ini harus diselesaikan secara mandiri dengan pendekatan yang bijak dan arif.

Berbagai peristiwa yang menghiasi perjalanan pergerakan ini, dari yang menyenangkan sampai yang menegangkan, dari masalah da’wah hingga daulah, tentu akan menjadi modal bagi proses pendewasaan gerakan da’wah ini. Beragam problema yang menggeluti pergerakan ini, niscaya akan menjadi suplemen yang akan mempercepat proses pembesaran tubuh gerakan ini, apabila disikapi secara positif.

Bila gerakan ini istiqamah memegang prinsip-prinsip Islam dan setia mengikuti manhaj dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, saya yakin, gerakan ini akan selamat mencapai tujuannya, meskipun dalam perjalanannya kerap ditimpa badai yang dahsyat. Tetapi sebaliknya, ketika gerakan ini menyimpang dari prinsip dan manhaj yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka yakinlah bahwa gerakan ini tidak akan berumur panjang. Dia akan mudah jatuh terjerembab, meskipun hanya terantuk kerikil kecil.

Dalam kesempatan ini saya akan mengungkapkan beberapa bentuk penyimpangan-penyimpangan dalam gerakan Islam yang dapat menjadi batu sandungan bagi keberlangsungan gerakan da’wah Islam. Pembahasan ini sengaja saya sampaikan agar para aktifis da’wah dapat terhindar dari sandungan-sandungan yang membahayakan ini.

Jalan Da’wah adalah Jalan Satu-satunya

Tujuan da’wah Islam adalah li i’laa-i kalimatillah , untuk menegakkan syari’at Allah di muka bumi ini. Yaitu tegaknya suatu system kehidupan yang mengarahkan manusia pada suatu prosesi penghambaan hanya kepada Allah saja. Bila syari’at Allah belum tegak, maka beragam prosesi penghambaan kepada selain Allah akan marak dan terus tumbuh subur. Untuk mencapai tujuan tersebut, hanya ada satu jalan, yaitu: jalan da’wah. Inilah jalan yang telah ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul-Rasul sebelumnya, juga para shiddiqin, syuhada dan shalihin, sebagaimana wasiat Allah kepada Rasul-Nya: ”Dan inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah engkau ikuti jalan-jalan lain, karena itu semua akan menyesatkanmu dari jalan-Nya. Itulah yang telah diwasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa. ” (QS. Al-An’am: 153)

Pada jalan inilah Rasulullah beserta pengikutnya melangkah, meskipun jalan tersebut berliku, terjal, penuh onak duri bahkan binatang-binatang buas yang siap menerkam. Ia dan pengikutnya tidak akan berhenti sampai tidak ada lagi fitnah dan sistem Allah (dienullah) tegak di muka bumi ini secara total.

“… Sampai tidak ada lagi fitnah, dan Dien seluruhnya adalah milik Allah.” (QS. Al-Anfal: 39).

Sehubungan dengan ini Imam Hasan Al-Banna rahimahullah mengatakan, “Jalan da’wah adalah jalan satu-satunya. Jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Jalan yang juga dilalui para da’i yang mendapat taufiq Allah. Bagi kita, jalan ini adalah jalan iman dan amal, cinta dan persaudaraan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak para sahabat kepada iman dan amal. Menyatukan hati mereka dengan jalinan cinta dan persaudaraan. Maka, terhimpunlah kekuatan aqidah yang menjadi kekuatan wahdah (persatuan). Jadilah mereka jama’ah yang ideal. Kalimatnya pasti tegak dan da’wahnya pasti menang, walaupun seluruh penduduk bumi memusuhinya. ”

Ia memilih jalan yang telah dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini dengan berlandaskan pada tiga kekuatan: kekuatan aqidah dan iman, kekuatan wahdah dan irtibath (jalinan yang kohesif), serta kekuatan senjata dan militer.
Beliau juga menentukan tahapan-tahapan perjuangan da’wah dan aktivitas gerakan, yaitu marhalah ta’rif (tahap pengenalan), marhalah takwin (tahap pengkaderan) dan marhalah Tanfidz (tahap operasional). Disamping juga menetapkan target dan sasaran yang berjenjang melalui proses tarbiyah, yaitu:

  • Terbentuknya pribadi muslim yang ideal
  • Terwujudnya keluarga muslim yang bertaqwa
  • Terbinanya masyarakat muslim yang responsif terhadap seruan Allah
  • Tegaknya pemerintahan Islam yang berlandaskan syari’at Allah
  • Tegaknya Daulah Islamiyah di bawah koordinasi Khilafah Islamiyah, hingga menjadi tauladan dunia, dengan idzin Allah.

Demikianlah beliau dengan para ikhwan lainnya memahami dan mengamalkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Dan dalam mengorganisir gerakan da’wahnya, ia tentukan rukun bai’at yang sepuluh ( arkaul bai’at al-’Asyarah ), dan menjadikan faham (pemahaman) sebagai rukun bai’at yang pertama dan utama. Kemudian meletakkan prinsip-prinsip yang dua puluh, sebagai kerangka yang menjelaskan pemahaman ini.

Gerakan Ikhwanul Muslimin yang beliau dirikan inilah yang menginspirasi munculnya gerakan-gerakan Islam lainnya di seluruh penjuru dunia. Termasuk gerakan-gerakan Islam di Indonesia sebagian besar merujuk pada manhaj dakwah yang dirumuskan oleh para ulama Ikhwan.

Penyimpangan Dalam Gerakan Da’wah

Setelah mengalami berbagai kendala, tes dan cobaan, alhamdulillah gerakan da’wah kita semakin diperhitungkan oleh banyak kalangan, terutama setelah gerakan ini memasuki mihwar siyasi (orbit politik) dengan memunculkan sebuah partai da’wah. Tentu banyak nilai positif yang dapat kita petik dari kehadiran partai da’wah ini, disamping ada pula ekses-ekses negatifnya, untuk da’wah itu sendiri.

Semakin besar dukungan masyarakat terhadap partai ini, tentu semakin besar pula beban tanggung jawab yang harus dipikul. Adalah manusiawi apabila dalam proses perjalanan gerakan da’wah di ranah politik ini ada oknum-oknum aktifis da’wah (da’i) yang tergelincir dari jalan da’wah ini. Apalagi ketika partai ini semakin besar, maka kans terjadinya penyimpangan di kalangan manajer partai pun akan semakin besar. Oleh karenanya mengetahui bentuk-bentuk penyimpangan da’wah menjadi keharusan, agar kita semua terhindar darinya.

Diantara bentuk-bentuk penyimpangan dalam gerakan da’wah ini adalah:

1. Penyimpangan dalam ghoyah (Tujuan)
Penyimpangan ini termasuk penyimpangan yang paling berbahaya. Tujuan da’wah secara moral adalah semata-mata karena Allah Ta’ala. Apabila ada motif selain itu, seperti motif-motif duniawi atau kepentingan pribadi yang tersembunyi, adalah penyimpangan.
Setiap penyimpangan tujuan, meskipun ringan atau kecil, tetap akan menyebabkan amal tersebut tertolak. Penyimpangan ini tidak harus berarti mengarahkan motif secara total ke tujuan duniawi. Tetapi sedikit saja niat yang ada di dalam hati bergeser dari Allah, maka sudah termasuk penyimpangan.Allah tidak akan pernah menerima amal seseorang kecuali yang ikhlas karena-Nya. (QS. Az-Zumar: 3, 11-14, Al-Bayyinah: 5)

Riya ‘, ghurur (lupa diri), sombong, egois, gila popularitas, merasa lebih cerdas, lebih pengalaman, lebih luas wawasannya, lebih mengerti syari’ah dan da’wah, terobsesi asesoris duniawi, seperti: jabatan, kehormatan, kekuasaan, kekayaan ; adalah penyakit-penyakit hati yang menyimpangkan para da’i dari tujuan da’wah yang sebenarnya.

Berda’wah itu harus bebas dari kebusukan. Barangsiapa yang berniat baik dan ikhlas, Allah akan menjadikannya sebagai pengemban dakwah. Barangsiapa menyimpan kebusukan di dalam hatinya, Allah sekali-kali tidak akan menyerahkan da’wah ini kepadanya. Demikian pentingnya ikhlas ini sampai Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjadikannya salah satu dari rukun bai’at. Seluruh kader wajib berkomitmen dengannya. Memenuhi dan menjaganya dari segala noda, agar gerakan da’wah ini tetap bersih dan suci.

Menurut Imam Hasan Al-Banna rahimahullah, pengertian ikhlas adalah menujukan semua ucapan, perbuatan, perilaku dan jihadnya hanya kepada Allah semata; demi mencari ridha dan pahala-Nya, tanpa mengharapkan keuntungan, popularitas, reputasi, kehormatan, atau karir. Dengan keikhlasan ini seorang kader da’wah akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah; bukan pengawal kepentingan dan keuntungan.

2. Penyimpangan dalam ahdaf (Sasaran Utama)
Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjelaskan sasaran yang hendak dituju, yakni menegakkan syari’at Allah di muka bumi dengan mendirikan Daulah Islamiyah, dan mengembalikan kejayaan Khilafah Islamiyah, sembari menyerukan Islam kepada seluruh manusia.
Dalam risalahnya yang berjudul ” bayna al-Ams wa al-Yaum “(” Antara Kemarin dan Hari ini “), Imam Al-Banna rahimahullah mengatakan: ”Ingatlah! Kalian memiliki dua sasaran utama yang harus diraih: Pertama, membebaskan bumi Islam dari semua bentuk penjajahan asing. Kemerdekaan, adalah hak asasi manusia. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang zhalim, durhaka dan tiran.
Kedua, menegakkan di Negara yang dimerdekakan itu, berupa Negara Islam Merdeka, yang bebas melaksanakan hukum-hukum Islam, menerapkan sistem sosial, politik, ekonomi, memproklamirkan Hukum Dasarnya yang lurus, dan menyampaikan da’wah dengan hikmah. Selama Negara Islam belum tegak, maka selama itu pula seluruh umat Islam berdosa, dan akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Disebabkan keengganan mereka menegakkan syari’at dan Negara Islam, serta ketidakseriusan mereka dalam upaya mewujudkannya.”

Dalam risalah Al-Ikhwan Al-Muslimun “Di bawah bendera Al-Qur’an”, beliau menjelaskan tugas dan target gerakan da’wah ini: ”Tugas besar kita adalah membendung arus materialisme, menghancurkan budaya konsumerisme dan budaya-budaya negatif yang merusak umat Islam.Materialisme dan konsumerisme menjauhkan kita dari kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan petunjuk Al-Qur’an, menghalangi dunia dari sinar hidayah-Nya, dan menunda kemajuan Islam ratusan tahun.Seluruh faham dan budaya tersebut harus dienyahkan dari bumi kita, sehingga umat Islam selamat dari fitnahnya.
Kita tidak berhenti sampai di sini. Kita akan terus mengejarnya sampai tempat asalnya, dan menyerbu ke markasnya, hingga seluruh dunia menyambut seruan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dunia ini terselimuti ajaran-ajaran Al-Qur’an, dan nilai-nilai Islam yang teduh menaungi seisi bumi. Pada saat itulah sasaran dan target kaum Muslimin tercapai. ”

Dalam menyoroti kondisi negeri-negeri Muslim sekarang ini beliau menyatakan dengan gamblang:
“Sungguh ini merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan. Idealitas Hukum Dasar Islam di satu sisi, sedangkan realitas tujuannya berada di sisi lain.Karena itu ketidakseriusan para aktifis da’wah untuk memperjuangkan diberlakukannya hukum Islam adalah suatu tindakan kriminal; yang menurut Islam tidak dapat diampuni dosanya kecuali dengan upaya membebaskan sistem pemerintahan dari tangan pemerintah yang tidak memberlakukan hukum-hukum Islam secara murni dan konsekuen.”

Demikianlah ahdaf (sasaran utama) dari gerakan da’wah ini dirumuskan oleh tokoh utama dan pemimpin gerakan da’wah kotemporer, Imam Hasan Al-Banna rahimahullah.

Jadi, apabila ada aktifis da’wah (da’i) yang menyatakan bahwa partai da’wah ini tidak akan memperjuangkan syari’at Islam, dengan alasan apapun (politis maupun diplomatis), jelas telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah yang utama. Mestinya mereka justru menyebarkan opini tentang kewajiban menegakkan syari’ah untuk setiap muslim, secara massif, bukan malah menyembunyikanya. Apalagi di era reformasi yang setiap orang bebas bicara apa saja karena dilindungi Undang-Undang.

Kemudian, apabila partai da’wah berkoalisi dengan partai, organisasi, atau komunitas lain yang berbasis ideologi asing, juga telah menyimpang. Karena tugas gerakan da’wah Islam adalah membebaskan umat dari penjajahan atau dominasi asing, baik itu ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial. Bukan malah bekerjasama dalam ketidakjelasan maksud dan tujuan.

Para kader da’wah atau da’i yang terpengaruh kemudian menganut paham materialisme dan gaya hidup konsumerisme juga telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah ini. Mereka seharusnya memberi contoh berupa keteladanan hidup yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sederhana dan santun dalam keinginan dan kebutuhan.

Kesalahan dan dosa mereka hanya bisa ditebus dengan menyosialisasi kewajiban menegakkan syari’at kepada seluruh elemen umat, dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh; serta menghindari diri dari sikap dan perilaku materialistis dan konsumtif.

3. Penyimpangan dalam Pemahaman
Salah satu persoalan mendasar dalam gerakan da’wah adalah: Pemahaman.Pemahaman yang benar dan utuh tentang Islam dan manhaj dakwah Islam menjadi krusial, sebab kekeliruan pemahaman akan Islam dan manhaj da’wahnya menjadikan gerakan ini berbelok arah, sehingga tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Imam Al-Banna rahimahullah memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan pemahaman ini. Ia curahkan segenap kemampuannya untuk menyuguhkan Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wujudnya yang bersih dari segala bentuk penyimpangan, baik dalam hal aqidah, ibadah dan syari’ah. Terhindar dari pertentangan yang dapat memecah belah umat, dan distorsi hakikat Islam yang dilakukan para musuh Islam di masa lalu maupun sekarang. Dan ia membuat pemahaman ini rukun bai’at yang pertama dan utama.

Bentuk-bentuk penyimpangan dalam pemahaman ini, antara lain:
1. Mengadopsi pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan pemahaman yang benar tentang Islam, Al-Qur’an dan Sunnah shahih, melontarkan dan menyosialisasikan pemikiran aneh tersebut sehingga membuat bingung umat.
2. Menolak hadits-hadits shahih dan hanya menerima Al-Qur’an saja.Mengutamakan rasionalitas ketimbang hadits-hadits shahih, dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara tendensius tanpa kaidah-kaidah yang benar.
3. Memaksakan semua kader da’wah untuk mengikuti satu pendapat ijtihadiyah dalam masalah furu ‘yang memiliki beberapa penafsiran pendapat. Pemaksaan seperti ini akan mengubah gerakan / jama ‘ah da’wah menjadi firqah, atau madzhab tertentu; yang bukannya tidak mungkin akan dengan mudahnya mengeluarkan statement: “Siapa yang sependapat dengan kami maka dia adalah golongan kami. Yang tidak sependapat, dia bukan golongan kami, maka pergilah menjauh dari kami. ” Perlu diingat bahwa gerakan da’wah ini didirikan bukan atas dasar madzhab tertentu dalam masalah furu ‘. Gerakan ini harus dapat merekut semua umat Islam untuk mempersatukan mereka dalam bingkai aqidah.
Dalam menghadapi masalah-masalah furu ‘ini, hendaknya diambil yang lebih kuat dalil dan argumentasinya, dan tidak mengecilkan atau menyepelekan pendapat orang lain, meskipun ia berada di luar orbit gerakan da’wah ini. Islam mengajarkan kita melihat content (esensi) pendapatnya, bukan siapa yang berpendapat.
4. Memperbesar masalah-masalah juz’iyah dan far’iyah , dengan mengenyampingkan masalah Kulliyat (prinsip).
Imam Hasan Al-Banna rahimahullah telah menghimbau kita agar kembali kepada kaidah bijaksana: “Hendaknya kita bekerjasama dalam hal yang disepakati, dan saling tenggang rasa dalam masalah yang masih diperselisihkan. ”
5. Membatasi gerakan da’wah ini membicarakan Islam dalam hal-hal tertentu yang tidak menyinggung para penguasa pemerintahan maupun para pemimpin gerakan da’wah Islam. Padahal kita diwajibkan menyuguhkan Islam secara utuh, mengajak dan mengamalkannya secara utuh pula.

4. Penyimpangan dalam khiththah (Tindakan Strategis)
a. Mengikuti Pola Partai Politik sekuler. Dalam hal ini menjadikan politik sebagai panglima, bukan lagi da’wah. Menitik beratkan pada faktor kuantitas pendukung (bukan kualitas), dengan tujuan mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya dalam pemilu.
Ini merupakan penyimpangan yang membahayakan bangunan da’wah. Sasaran kita bukan sekedar mencari orang yang mau memberkan suaranya di pemilu, tetapi kita membutuhkan orang yang siap mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah.
Kita membutuhkan orang yang sabar, mau berkorban, tabah, siap memikul beban da’wah, memahami kepentingannya dan bertanggung jawab terhadap amanah yang dibebankan kepadanya.
Kita menginginkan orang-orang yang mencari akhirat, bukan mereka yang memburu pangkat. Kita menemukan orang-orang yang rindu kampung surgawi, bukan orang-orang yang berburu kekuasaan duniawi. Kita menginginkan orang-orang yang kommit dengan nilai-nilai syar’i, bukan orang-orang yang terobsesi kursi. Kita menginginkan orang-orang yang selalu ingat akan janji Allah, bukan orang yang cepat lupa dengan janji-janji yang dia lontarkan pada waktu kampanye.
Kita tidak menginginkan gerakan da’wah ini dikuasai oleh orang-orang yang berambisi kekuasaan dan harta semata, dengan segala kewenangan dan fasilitasnya. Kita juga tidak butuh orang-orang yang gemar melakukan lompatan-lompatan yang tidak syar’i untuk meraih ambisi-ambisi pribadinya.Tetapi kita butuh orang-orang yang akan bekerja menegakkan dienullah, dan beriltizam pada syari’at serta menjauhi cara-cara pencapaian tujuan yang tidak syar’i.

b. Mengabaikan Faktor Tarbiyah. tiadanya perhatian yang layak terhadap tarbiyah akan menyebabkan rendahnya tingkat pemahaman setiap individu, yang pada gilirannya tidak akan melahirkan kader yang mampu membantu meringankan beban jama’ah. Tarbiyah berpengaruh terhadap ketahanan kader dalam menghadapi tantangan dan tuntutan amal di jalan da’wah, baik pada saat-saat kritis yang membutuhkan pengorbanan, maupun ketika panggilan jihad telah dikumandangkan.
Penyebab terabaikannya faktor tarbiyah:
1. Aktifitas politik mendominasi seluruh amal da’wah, sehingga waktu, tenaga, pikiran dan dana tersedot ke aktifitas tersebut.
2. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan murabbi, dan naqib, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas pembinaan kader yang berujung pada stagnasi pertumbuhan kader.
3. Usrah atau halaqah berubah menjadi forum sosialisasi Qadhaya, bukan solusi Qadhaya. Usrah hanya menjadi forum mencari info dan pengumuman, padahal semestinya sebagai wadah pembinaan, pembentukan dan perbaikan akhlak, ruhani dan intelektualitas.
4. Usrah atau halaqah hanya menjadi wadah untuk membentuk kader-kader da’wah yang tak siap berdialog secara kritis dan analistis, karena lebih ditekankan metode indoktrinasi, ketimbang diskusi.

c. Mengabaikan prinsip “The Right Man on The Right Place” dalam penyusunan struktur jama’ah da’wah. Penyimpangan lain yang berbahaya adalah menempatkan kader pada struktur jama’ah yang tidak sesuai potensi dan kemampuannya, tetapi berdasarkan “like and dislike” . Juga memberi amanah atau tugas kepada kader yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Hal ini dapat merusak efektifitas gerakan serta menyeret pada ekses-ekses yang dapat melemahkan eksistensi jama’ah dan mempermudah timbulnya berbagai penyakit lain.

d. Menerima Prinsip dan Ideologi sekuler Rabbaniyah adalah prinsip dasar da’wah setiap gerakan Islam. Da’wah pada hakikatnya memperjuangkan nilai-nilai Rubbubiyah, Uluhiyah, Mulkiyah dengan cara-cara yang diizinkan Rabb dan dicontohkan oleh Rasul-Nya, oleh kader-kader Rabbani (para Murabbi dan mutarabbi), demi mencari ridha Allah. Dengan demikian kita tidak bisa menerima prinsip dan ideologi sekularisme, Nasionalisme, Pluralisme, Liberalisme, Komunisme, Kapitalisme juga Sosialisme, walaupun diberi embel-embel Islam di belakangnya.

e. Membiarkan Jama’ah Dipimpin dan Dikuasai Orang yang Tidak Jelas. Gerakan Islam harus memiliki kepribadian Islam yang jelas, dalam pemahaman, tujuan, langkah dan keputusan-keputusannya. Ia tidak bisa tunduk kepada penguasa. Tidak bisa tergiur oleh harta dan tahta. Musuh-musuh gerakan Islam memiliki cara tertentu untuk menghancurkan gerakan da’wah.Apabila cara-cara fisik dianggap tidak efektif meredam laju gerakan da’wah, maka adakalanya mereka menggunakan cara yang lebih halus tetapi daya rusaknya hebat. Seperti misal, menyusupkan agen intelijen ke dalam saf gerakan Islam. Agen ini berusaha untuk diterima seluruh elemen jama’ah, menempel pada qiyadah jama’ah, mempengaruhinya dalam setiap pengambilan keputusan, dan secara licin dan lihai membelokkan arah gerakan ini menuju lembah kebinasaan. Sejarah keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah di Turki, karena disusupi intelijen Yahudi, mestinya menjadi pelajaran berharga bagi setiap gerakan Islam.

f. Berpartisipasi dalam Pemerintahan yang Tidak Menjalankan hukum Allah. Pada dasarnya kita tengah berupaya menjalankan hukum Allah dan tidak akan menyetujui hukum atau aturan apapun yang bertentangan dengan syari’at Allah.
Tidak dapat dibenarkan kader gerakan Islam ikut masuk dan berpartisipasi dalam pemerintahan yang tidak menjalankan syari’at Islam, apalagi ketika dia tidak mampu mempengaruhi pemerintahan tersebut, dan bahkan menjadi terpengaruh oleh sistem yang tidak islami. Sikap ini termasuk penyimpangan dari tujuan gerakan Islam ini.
Mungkin dalam situasi kondisi tertentu, atas izin jama’ah, setelah melalui pertimbangan syari’ah dan politik yang matang, dibutuhkan ikut serta dalam pertimbangan. Dengan pengertian pemerintahan tersebut dalam transisi menuju terbentuknya sistem pemerintahan Islam yang sempurna. Hal ini dapat dibenarkan dengan syarat ada kontrak politik tertulis berupa jaminan bahwa pemerintah setuju untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini tidak bisa diserahkan kepada ijtihad pribadi. Setelah kesepakatan itu dilanggar, maka kita harus segera melepaskan diri dari partisipasi tersebut, agar tidak tertipu dan tergelincir dari tujuan gerakan da’wah yang mulia ini.

g. Berkoalisi dengan Pihak Lain dengan Mengorbankan Prinsip dan Tujuan Da’wah. Dengan sebab dan alasan apapun, tidak dibenarkan mengadakan koalisi dengan pihak-pihak yang tidak memiliki kesamaan ideologi, visi dan misi dalam memperjuangkan tegaknya syariat Allah. Apalagi jika koalisi tersebut harus mengorbankan prinsip-prinsip Islam yang akan diwujudkan melalui perjuangan kita selama ini.
“Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, maka mereka pun bersikap lunak kepadamu.” (QS. Al-Qalam: 9)

Begitu pula, tidak dibenarkan melakukan koalisi sdengan mengorbankan sasaran dan target yang selama ini kita berusaha mencapainya. Kalau hal ini dilakukan, berarti kita telah menimbulkan penyimpangan dan pergeseran dari prinsip, serta menyeret semua amal dan pengorbanan ke arah yang tidak benar. Bahkan meratakan jalan bagi musuh untuk menguasai dan menentukan arah dan langkah pergerakan kita.
Karena itu, menjadi kewajiban kita semua untuk mengingatkan agar jangan mengangkat orang-orang yang tidak jelas ideologi perjuangannya menjadi pemimpin. Jangan memberi dukungan kepada orang-orang yang zhalim dan korup. Jangan tunduk kepada mereka karena iming-iming harta dan posisi.Jangan mengadakan perjanjian yang akan membahayakan eksistensi gerakan Islam. Mari kita berhati-hati, dan tidak memberikan kepercayaan, dukungan dan loyalitas kepada musuh-musuh Allah. Allah telah mengingatkan:
“Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, meskipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan ke dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pu ridha terhadap Allah. Mereka itulah Hizbullah (partainya Allah). Ketahuilah bahwa sesungguhnya Partai Allah itulah yang akan memperoleh kemenangan. ” (QS. Al-Mujadalah: 22)

h. Mengabaikan Prinsip dan Keputusan Syura. Allah mewajibkan syura kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun ia telah mendapat wahyu. Beliau selalu melaksanakan syura bersama para sahabatnya karena perintah Allah dan sebagai tasyri ‘bagi umat Islam. Untuk itulah, beliau mengikuti pendapat Habbab dalam perang Badar, dan mengikuti usulan Salman dalam perang Khandaq.
Syura penting kedudukannya dalam gerakan Islam dan “amal jama’i”. Dengan syura akan diperoleh pendapat yang lebih matang dan benar. Ia memberi kesadaran akan dasar-dasar keikutsertaan dalam tanggung jawab. Syura juga menumbuhkan suasana saling percaya dan kerjasama antara semua anggota jama’ah.
Setiap individu dalam gerakan Islam dituntut agar bersifat positif dan aktif dalam da’wah. Ia harus ikut memikirkan, memberikan pandangan-pandangan dalam mewujudkan kemanfaatan, menghindari kemuidharatan, serta membantu qiyadahnya dengan pemikiran, ide, gagasan, serta nasihat, sesuai dengan adab da’wah.
Kepada para qiyadah, apapun jabatannya, harus bermusyawarah dengan para kadernya. Memanfaatkan pandangan dan pemikiran mereka dalam menghadapi persoalan dan kemelut. Berlapang dada dalam menerima nasihat yang diberikan kader, walaupun dirasa pahit dan caranya kurang berkenan, agar da’wah tidak kehilangan kebaikan yang terkandung di dalam nasihat tersebut.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kedua amirul mukminin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu’ anhu yang ketika memberi sambutan di hari pelantikannya sebagai Khalifah, keduanya meminta teguran rakyat atas segala bentuk penyelewengan.
Amirul mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu bersikap lapang dada terhadap seorang rakyat yang berkata lantang kepadanya di hadapan masyarakat banyak: “Kalau kami melihat Anda melakukan penyimpangan, maka kami akan meluruskannya dengan pedang kami!”
Pelanggaran terhadap prinsip dan keputusan syura yang dilakukan qiyadah, apapun jabatannya, ilmu dan keahliannya, disamping menyimpang dari khiththah perjuangan, juga berarti pengkhianatan terhadap misi da’wah.
Begitu pula untuk para kader yang bersikap pasif, tidak memberikan pendapat, masukan dan nasihat kepada qiyadah, serta merasa tidak bertanggung jawab atas masalah tertentu yang strategis, adalah bentuk penyimpangan dan pelanggaran atas prinsip syura dalam da’wah.
Di antara bentuk penyimpangan lain dari prinsip syura yang berbahaya adalah menjadikan syura sebagai formalitas belaka yang kering dari esensi. Ada Majelis Syura, namun pembentukannya diintervensi dan keputusannya direkayasa oleh pihak-pihak tertentu. Islam menolak segala bentuk manipulasi dan penipuan. Sangat ketat dalam proses pemilihan anggota Majelis Syura, karena mereka bukan saja bertanggung jawab kepada jama’ah; tetapi juga kepada rakyat dan yang paling penting bagi Allah Yang Maha Tahu. Pemilihan anggota majelis syura harus melibatkan semua kader dan elemen jama’ah, dengan mempertimbangkan kebenaran, keadilan dan keridhaan Allah, bukan keridhaan qiyadah. Barangsiapa melanggar hal ini, berarti telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman.

Demikianlah sebagian dari bentuk-bentuk penyimpangan dalam gerakan Islam yang dapat menggelincirkan kita dari tujuan da’wah yang mulia dan suci. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari hal-hal tersebut di atas.Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man-Nashir.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

 

sumber : http://tarbiyahbukanpks.com/penyimpangan-gerakan-dakwah/

bukan begitu..

bukan..

bukan begitu..

bismillahirrohmaanirrahiim..

x : Sebagai awam, saya bingung. Apa sih untungnya mencela2 perjuangan saudara sendiri. Kenapa tdk fokus agenda masing2?

 y : jgn su’udzon ya mas, sy bcara demokrasi dan pndukungnya, tnpa ditujukan ke siapa2, sdh mjd tugas kami mngingatkn umat dr kmusyrikan

 

memperjuangkan Islam pasti akan mendapat masalah.

mari mari re-check Al Qur’an, perjuangan para Nabi ‘alaihissalam dipenuhi masalah, penuh konflik, dibutuhkan pengorbanan, harta dan jiwa.

menyelesaikan masalah tanpa masalah(familiar motto ini?)

cari aman, ngga pengin bentrok dengan thagut itu “menyelesaikan masalah tanpa masalah”.

namun, perjuangan diin ini bukanlah pegadaian (!)

atau ada yang begitu? dengan menggadaikan aqidah ? 😥

temanku, saudariku, kalian sungguh kusayangi….

berbeda, boleh.

tapi dlm hal apa?

tidak inginkah antunna memilih yg benar, yang syar’i?

lama sudah ini bergulat dlm hati dan pikiran ini.

semua perjuangan ada kaidahnya.

niat yang baik tidak bisa menghalalkan jalan yang haram.

bagaimana menjelaskan kesalahan demokrasi dengan sangat sederhana?

demos=rakyat, kratos=kekuasaan, pokok prinsipnya menyerahkan kekuasaan tertinggi kepada manusia.

kita faham ,kepada siapa seharusnya kekuasaan dimiliki?kepada siapa seharusnya?

Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman kepada ayat2-Nya.

hmm..beralih ke “mencela perjuangan saudara sendiri”

terkesan demikian kah? Jika ya, afwan… afwan saudariku… sekali lagi afwan…(jika benar ana tambahkan jiddan, namun tidak begini kaidah bahasanya, -semoga antunna faham)

apa tujuan dari semua ini? tegakah ana menghalang2i antunna dalam berdakwah menegakkan Al Qur’an di muka bumi ini? T__T

bukan..

bukan begitu saudariku…

hmm…

mungkin sekarang hanya persepsi antunna yang perlu diubah…

mengingatkan, tugas penyeru diin ini mengingatkan bukan?

“Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” –Adz Dzariyat : 55-

ya, mengingatkan antunna, dari.. ?

dari kemusyrikan, dari kubangan kekufuran.

mungkin selama ini, ana kurang komperhensif memaparkannya,

hanya parsial sehingga persepsi yang antunna dapat salah,

ya itu salah ana,

sehingga izinkanlah ana,

memaparkan pemahaman, yang selama ini ana cari, kepada antunna,

pemahaman yang telah memantapkan hati ini untuk memilih, dan tubuh ini bergerak,

jika ada keliru, mohon ingatkan,dan  luruskan jika antunna telah melihat kesalahan itu, segera,

hanya do’a yang mampu menjadi sandaran ketika hati telah berada di persimpangan pilihan, setelah ilmu dikejar untuk diraih manfaatnya,

“Ya Allah, tetapkan hati ini untuk selalu berada di atas ketentuan agama-Mu.”

 

tulisan ini (In Syaa Allah) akan dibuat beberapa seri ini,

Syukur-in Sakit

hey..

kamu sakit??

syafakillah ya say…

cepet sembuh ya..

jazakillahyaa doanya :’)

sakit..

hmm…sakit..?

sakit itu hanya akan menambah sakit, jika perasaan kita pun sakit karena datangnya sakit itu..

kok sakit Ya Allah..

aku jadi ngga bisa ngapa2in ya Allah..

huhuhu….(T__T)

terus kita jadi melow?

kita jadi melankolis?

kita jadi orang yang paling ingin dikasihani?

jadi orang yang ingin ‘dimaklumi’?

 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yangsabar.

(yaitu) orang-orangyang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaailaihi raaji’uun.” (Al Baqarah 155-156)

itu menjadi hal yang umum,

keluhan2 ‘terselubung’ itu,

namun itu tak guna…

buang perasaan melow itu, jika antunna sakit…

coba kalau begini:

it’s great,

aku sakit, (^_^)

inilah saat dimana Allah kan menggugurkan dosa2ku,

alhamdulillah,

terimakasihYa Rabb,

betapa terasa sungguh nikmatMu yang sangat banyak dan detail,

sel2 tubuhku ini menjalankan perintah-Mu,

untuk sakit, untuk menjadi lbh lemah, untuk menjadi mati sebagian,

hmm,,apakah aku dzalim terhadap tubuhku? maafkan aku Ya Rabb jika begitu..

kan kurawat nanti, lebih baik,

kan kurawat jasad pinjamanMu ini, nanti, lebih baik..

tubuh, raga, jasad ini boleh sakit,

namun jangan perturutkan hatimu untuk sakit juga..

terima ketentuan Allah,

dengan ikhlas,

dengan tenang,

dengan senang,

bahkan..

dengan syukur,

tak perlu salurkan energi negatif ke sekujur tubuh ini,

salurkan hamdallah,

salurkan dzikrullah,

kuasa Allah lebih dekat dari urat nadi ini,

pun syaithan2, selalu mengiringi sejak kita dilahirkan..

sehingga..

WARNING kufur nikmat ketika sakit,

just ADDING ikhlas dan syukur,

tapi..

bukan berarti ngga perlu pergi ke dokter ya.. (=,=)

ke dokter, iya..

tapi INGAT,

melangkahlah ke dokter dengan keyakinan, Allah-lah yg kan menyembuhkanmu,

Allah berkehendak, aku berusaha,

aku melangkah dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain,

dan itu semua kehendak Allah ketika aku memilih takdir itu,

jangan bingung mengenai takdir ini,

dan,

jangan lupa,

do’a..

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS Al Baqarah:186)

jaga semangat,

kekang hawa nafsu,

luruskan niat,

perhatikan gerak, rasa, dan pikir ini,

sudahkah selalu melangkah ke arah Allah? (TT_TT)

@kosan 080413 01.31pm when my gum is swollen

temenan sholat-e ya…(sambil ngaca)

ini simpel…

tapi penting…

setelah bahas ttg ruh sholat (sholat khusyu),

pngn nih share ilmu ttg gerakan sholat,

simple but REALLY IMPORTANT…

our whole life is good when our shalat is good 🙂 ini penilaian di padang mahsyar nanti..

silakan dipraktekkan ukhti… 😉

simpel dan mudah diinget kok, nanti kalau mau dalil rinci bisa kpn2 kubuat notes -nya in syaa Allah…..

1. NIAT .. ulama sepakat ngga boleh dilafadzkan, dlm hati ajaa sipp?

2.TAKBIR ..

– angkat 4jari sejajar telinga bag.atas, jempol sejajar telinga bagian bawah

– pergelangan sejajar pundak

– lalu disimpan di depan dada(digenggam/diletakkan aja).

– baca IFTITAH lalu AL FATHIHAH (perhatian : tajwid ngga boleh salah sedikitpuuuun)

3.RUKUK.. genggam erat lutut, punggung lurus

4.I’TIDAL.. sm ky takbir tangannya

5.SUJUD..

– tangan dulu -sekali lagi, TANGAN 1st- jgn lutut dulu, hadis yg bilang lutut dlu itu hadisnya lemah, jd ngga bs diamalkan

– posisi antara badan dan paha harus jauh hingga anak domba bisa jalan melaluinya (beneran ini), jgn smp paha nempel dgn perut, tapi iiinget PERHATIKAN KONDISI JAMAAH, kalo sempit jgn maksain

6.DUDUK ANTARA DUA SUJUD.. jari jemari semuanya lurus ke kakbah (tangan n kaki, smuanya)

6.TASYAHUD AKHIR..

– jarinya digerak2in, ada hadisnya knp kita disuruh gerak2in? dlm hadis yg derajatnya hasan ‘setan lbh takut dgn gerakan ini drpd pukulan besi’. tp ngga ada ketentuan kecepatan per menit (haha kebayang repotnya kalo ada). ngga blh pake 2 jari, klo telunjuknya potong/buntung, biarin aja, ngga ush diganti jari lain)

perhatian once more….

ini BUKAN MASALAH SEPELE, masalah sholat itu

yuk mulai sekarang kita care banget dgn akhirat kita, mulai dari hal pokok, sholat.

mulai teliti utk meniti langkah pikiran, hati, dan tubuh untuk mengarahkan diri menuju jannah-Nya..

okesip ukhti?

together we enter jannahh…

AAMIIN…

it’s clear all about MUSIC…

bismillahirrahmaanirrahiim….

Alhamdulillah, ini hasil pencarian selama ini.

ini resume kajian Rizal 8 Rajab 1434 H ato bertepatan dengan 18 Mei 2013. (pake kalender hijriah, biar ngga tasyabbuh, serius).

mengenai bahasa, sy pake bahasa campur aduk, baku,-non-baku, english, sunda, jawa, singkatan, capslock tiba2. ya, semoga ngga ada masalah, ini biar ngga ngantuk aja yang baca.

untuk shalawat, sengaja ditulis lengkap, biar pas baca kalian juga ikutan shalawat ke Nabi salallahu ‘alaihi wasallam. pengin kan nyicil dapet pahala, hehe

awali bismillah sebelum baca artikel ini. dan saya mohon banget, jangan bawa emosi(marah, sebel, dongkol) pas baca, supaya lebih ikhlas nerimanya. misal ada yang sebel karena sy yang nulis, atau sebel karena bahasan ini diangkat, istighfar dulu aja. istighfar yang banyak, mohon ke Allah diikhlaskan hatinya kalo bener2 niat pengin mencari kebenaran.

semoga Allah membuka hati kita semua.

Ada bbeberapa point penting di awal yang kudu diperhatiin :

1. yang boleh menghalalkan/mengharamkan? ALLAH dan RASUL,

– meski kdg2 ngga masuk akal, ex: pakaian isbal, pakaian sutra buat laki2. tapi ingat agama ini bukan berdasar AKAL (semata), tapi lebih tepatnya berdasarkan DALIL..

– kalo kita mengharamkan yang dihalalkan Allah : murtad otomatis. klo kita menghalalkan/mengharamkan sesuatu tanpa dalil. kita udah menandingi Allah dalam rububiyahnya. oksip?

2. ngga boleh bilang ini hadis dhaif, shahih, sesuai keinginan kita. haram ya. yang boleh hanya para ulama hadis, harus hapal 100ribu hadis (kita? boro2 T.T), Al Qur’an aja belum hapal…

– kita hrs merujuk ulama hadis

3. Tipe hadis ttg haramnya musik ada tiga macam: SHAHIH | DHAIF (karena ada jalur periwayatan lain, naik derajatnya) –> HASAN | PALSU

– hadis ttg musik banyak, ada 50lebih. yang dhaif/palsu buang aja, kita ngga perlu. yang shahih/hasan yang kita ambil.

4. ada 3 tipe hadis : UCAPAN NABI SALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM | PERBUATAN NABI SALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM | PERSETUJUAN NABI SALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

——————————————-

#PART1 -hadis2 yang menyebutkan haramnya hadis-

1. HR Bukhari : “akan tiba suatu zaman dimana UMATKU  MENGANGGAP HALAL  zina, sutra, khamr, dan ALAT MUSIK.”

– Ibnul Qoyyim bilang, alat musik : segala sesuatu yang dimainkan yang menimbulkan suara musik…

– contohnya apa? gitar, piano, kecapi, angklung, rebana (katanya halal? kalem,,ada bahasannya nnt), bahkan gelas/sendok/galon yang ditabuh mnimbulkan nada (jadi alat musik) ini haram juga, ati2. ini kesepakatan ulama bahasa arab.

– nanti ada ulama namanya Ibn Hazm, tapi ngga secerdas Ibn Hajar dan Al Bukhari. Al Bukhari hapal 600ribu hadis,kalo ibn Hazm ngga samap 100rb hadis, kalo ibn Hajar 100rb lbih.

– Ibn Hazm terkenal sebagai ulama yang paling banyak/sering mendhaifkan/menshahihkan hadis seenaknya. Lidahnya setajam pedang. ini udah terkenal, kalo mengkritik ulama bahasanya nyelekit/pedes.  ini kata para ulama lho.

– katanya dalam hadis ini, sanad Bukhari terputus di Hisyam ibn Amr.. jadi hrus nyambung kan hadis itu periwayatannya..

– kata ibn Hazm , hadis riwayat Bukhari ini dhaif, bahkan palsu. Okelah kalo misal hadis ini palsu, ada riwayat lain yang ngedukung yang jls2 shahih : diriwayatin juga sama Ibn Hibban (no.3417) | Thabrani (no.3417, qadarullah sama) | Al Baihaqi (jilid 10 hal 221). jadi jelas hadis ini shahih . sipp?

– jadi kita tau,,kesalahan ulama ada pada Ibn Hazm, dan kesalahan (ijtihad) ini diikuti oleh Yusuf Qadrawi. yang jelas tingkatan hadisnya jauh di bwh Ibn Hazm. Ibn Hazm aja jauh d bwh Bukhari.

– kita gimana? bahaya banget, kalo sekedar ikut2an.

2. HR Ibn Majah (no.4020) | HR Ibn Hibban (no. 1384) | HR Ahmad (jilid 5 hal.342) | Ibnul Qoyyim menshahihkan hadis ini | dan ada 10riwayat sebenernya, da ckup dulu, bs cari sendiri nanti. bunyinya gimana?

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “akan ada segolongan dari umatku yang menamakan minuman keras dengan nama yang lain, dan mereka juga menyanyikan lagu2 dengan alat2 musik oleh PARA WANITA, dan Allah akan membenamkan mereka ke bumi, dan sebagian dari mereka dijadikan kera dan babi.”

– kita belum liat orang yang berubah jadi kera dan babi yah? tunggu aja, karena itu pasti terjadi, demi Allah.

– “karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; Sesungguhnya Allah Maha perkasa, lagi mempunyai pembalasan.”  (Ibrahim : 47)

– tunggu aja orang2 diubah menjadi babi dan kera, Demi Allah, bukan In syaa Allah, beberapa waktu lagi.

3. Hadis yang derajatnya hasan lighairihi, dari Anas bin Malik. HR Al Bazar (jilid 1 hal.377 no.765) | HR Al Hakim (jilid 4 no.1063) | HR Baihaqi (jilid 4 no.64) | Tirmidzi (1005).

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ada 2 suara yang TERLAKNAT, yaitu SERULING ketika mndapat kenikmatan dan juga GEMERINCING ketika mendpat musibah.”

– tau gemerincing? orang Arab klo dapat musibah suka bunyiin

– kita tau, TERLAKNAT itu indikasi dosa besar.

4. HR Abu Daud (no.3666) | riwayat lain cari sndiri ya. da ngantuk anak2 kalo pas kajian ini disebutin semuanya kt ustad.

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “sungguh Allah telah mengharamkan atas diriku miras, judi, dan al kubah, dan segala yang memabukkan.”

– apa itu AL KUBAH? para ulama bilang, maksudnya GENDANG.

– jadi Nabi salallahu ‘alaihi wasallam salallahu ‘alaihi wasallam pertama mengharamkan musik secara global, semua jenis musik itu haram. .

– dan ada yang dirinci? Karena yang dirinci biasanya itu alat musik yang PALING EKSTREM dosanya (yang jelas2 ada rinciannya : gendang, gitar, seruling). semuanya haram, tapi yang dirinci lebih EKSTREM DOSANYA.

5. HR Tirmidzi (no.2213) | dan yang lainnyaaa..

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “umatku akan tertimpa berbagai macam cobaan, dan juga mereka akan dirubah bentuknya mjadi kera dan babi dan mereka akan dibenamkan.”

– dibenamkan..udah banyak kan tanah longsor di indonesia? yang belum dirubah bentuk jadi kera dan babi

– sahabat nanya, ‘Ya Rasul, kapan itu terjadinya, kapan?’

– dijawab : ‘yaitu, ketika alat musik dan para penyanyi telah bertebaran dimana-mana.’ udah belum?

– bhkan ada penyanyi yang pake kerudung, DIPUJI-PUJI..bhkan MUI ada yang muji2..Allahuakbar..muji2 Fathin Shidqia, katanya ini termasuk ke dalam dakwah..

– Ya Allah, dakwah gimana, dari mana? pake celana ketat, kerudung tercekik(maaf kalau ada yg tersinggung, ini kt ustad, dan sy ngga pengin nyembunyiin kebenaran, menutupi kebathilan), di depan orang lain (banyakan non-mahrom),,INI DAKWAH? bukan, ini merusak…..

– orang yang pakai pakaian ketat, kerudung tercekik, jelas dosanya di hari kiamat..subhanallah apalagi yang ngga pake. tolong dipikir matang2, semoga ini bukan ghibah(yg dilarang), karena jelas maksiat itu di depan mata kita semua.

– ketika kapan? ketika banyak penyanyi dan alat musik, serta miras udah dimana2…zaman sekarang banget T__T

6. HR Thabrani.

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak halal mengkomersilkan para penyanyi, memberi mereka, memperdagangkan mereka, dan hasil jual beli mereka haram.” jelas ngga?

—————————————–

– alat musik apa tadi artinya? segala yang dipukul, ditiup,  apapun  yang diapa2kan yang menimbulkan melodi2, itu haram.

——————————————–

#PART2 –edisi khusus Ibn Hazm-

kembali ke Ibn Hazm, siapakah ibn Hazm? adalah seorang gurbernur…

– belajar agama dan menjadi gurbernur di usia 25thn, cerdas banget. tapi ngga secerdas Ibn Hajar. ini bukan kata saya (ustad Rizal yang ngomong, selftalk: apalagi sy ustad..T_T), sy ngga ada 1%nya Ibn Hazm, ini kata ulama lain.

– tadi kt ibn Hazm, hadis pertama riwayatnya terputus…Hisyam bin Amr ngga nyambung sama Bukhari. gimana kata ulama lain?

-1- Hisyam itu gurunya imam Bukhari. dan Hisyam ini lagi ngasih PENGAJIAN di suatu pengajian yang jamaahnya amat banyak. sepakat ulama, kalau ada murid yang mendengar gurunya sesuatu, dan gurunya bilang ini hadis..itu termasuk sanad yang bersambung

-2- hadis ini ada dalam Shahih Bukhari. dan Bukhari BUKAN-lah MANIPULATOR hadis.. imam Bukhari terkenal sebagai orang yang sangat jujur.. ngga mungkin berdusta dalam masalah hadis, dia sangat takut dalam meriwayatkan hadis

-3- beliau sudah memastikan shahihnya hadis tersebut. Ini PASTI SHAHIHNYA….

-4- kalaupun misal (misal aja), hadis pertama tadi dhaif. maka udah ada BACK UP-nya dari hadis lain…(oksip?)

——————————————-

#PART3

Sekarang siapa aja ulama yang menshahihkan hadis ini? (ngeri dengernya)

1. Imam Al Bukhari #jerr

2. Imam ibn Hajar al Asqalani #jerrr

3. Imam Nawawi #jerrrr

4. Imam Ibn Taimiyyah #dorr

5. Imam Ibnul Qoyyim #dorrr

6. Imam Syaikh Al Albani #dhuarrr

7. Imam Ahmad bin Hambal #jdherrr jdherr

-ngga berkutik lagi-

– semua yang mengharamkan musik ini teh imam ahli hadis yang luar biasa,,ibn Hazm ngga ada apa2nya keilmuan hadisnya. mereka itu disebut pakar hadis banget.

– disebutnya Al Hafidz, syaratnya? hapal lebih dari 100rb hadis,

– imam Bukhari berapa hadis? 600rb hadis. gurunya imam Bukhari : imam Ahmad bin Hambal hapal 1juta hadis.

– klo ulama udah bilang gitu, mau ngapain lagi kita? tendang aja kita…ngga ada apa2nya kita dibanding mereka

——————————————–

#PART4 –poin2 PENTING-

POIN2 penting…

–1– ada sebagian orang yang pendapatnya rada2 nyeleneh, salah satunya Al Ghazali..’musik itu haram kalau hanya yang mengundang syahwat, kalau ngga mengundang hawa nafsu itu ngga apa2′.

– ini pake LOGIKA apa DALIL ? kalo bener logika nya gitu, kita terima misal…

– oke tmn2 kita gpp nonton film porno asal ngga nafsu. masuk akal? masuk akal ngga?

– udah…kalo udah ada dalil, ngga usah diutak atik..

– hadisnya ngga membedakan musik hawa nafsu dengan musik tanpa hawa nafsu…

– ngeliat aurat, pake ato ngga pake hawa nafsu sama2 dosa…ok?

–2– eh bunyi hadisnya kan gini ‘akan ada dari sebagian umatku yang mengahalkan zina DAN sutra DAN khamr DAN alat musik. ‘

– kan Nabi salallahu ‘alaihi wasallam pake ‘DAN’..dimana dalam rumus matematik, dan itu haruslah kejadian yang beririsan

– berarti yang haram itu, alat musik yang dibarengi dengan zina, minum khamr, dan sutra(eh sutranya gimana dong)… #tepokjidat

– berarti boleh dong, zina asal ngga pake alat musik..

– PARAH BANGET….inilah kalau orang udah pake logika (doang)..

– udah, gini..kalau udah ada dalil jangan pake logika lagi…

–3– maksud Nabi salallahu ‘alaihi wasallam ‘menghalalkan’ disini adalah menganggap halal karena KEBODOHAN atau menganggap halal karena KECEROBOHAN. kenapa?

karena Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, bilang ‘umatku’ = umat Islam.

– jadi kalo ada yang menganggap halal zina, miras, sutra, musik karena kecerobohan(ngga sengaja) itu NGGA MURTAD.

– tapi SETELAH dia TAU kalo zina dkk itu haram dari Qur’an dn Hadis, tapi dia tetap MENGANGGAPNYA HALAL. maka dia itu murtad.

– clear..? kalo kita udah tau ini haram, lalu kita bilang ini halal, kita murtad. jadi menganggap halal disini adalah menganggap halal karena ketidak tahuan. sipp?

——————————————-

#PART5

ULAMA yang menghalalkan musik…

— oke,,pertama ada ulama Syi’ah, dia bilang ‘musik itu halal menurut kesepakatan kaum muslimin’.

– kata ibn Tamiyyah, ‘dia itu DUSTA’. itu bohong.

–  ulama yang 4 : Hanafi, Maliki, Hambali, Syafi’i semuanya sepakat kalo alat musik itu haram

– Yusuf Qadrawi dalam bku Halal dan Haram bilang, ‘Imam Malik membolehkan musik dan nyanyian.’ subhanallah, ini adalah nukilan yang sangat bathil….

— Imam Malik pernah didatengi seseorang, ditanya ‘Imam Malik, apa pndapatmu ttg alat musik.’ beliau bilang ‘haram’. ‘loh tapi di Madinah banyak yang main musik’. Imam Malik jawab, ‘orang2 yang main musik itu orang2 fasik di antara kami’.

– orang2 Madinah bs jadi dalil ngga?

– ngga boleh, please udah tau kan. dalil itu Qur’an, Hadis, dan Atsar. klo ucapan/perbuatan orang Madinah mah ngga bs jadi dalil..perbuatan manusia ngga bs jadi dalil,

— ibn Umar punya tmn namanya ibnu Jafar. ibnu Jafar punya budak, jago main GITAR. akhirnya ibnu Umar mau beli budak ini dari ibnu Jafar karena temenan, tmn dagang.

– pas mau dibeli, budaknya lagi main gitar, ibnu Umar bilang, ‘alat musik setan. cepet jual budaknya ke aku.’

– Yusuf Qadariawi bilang apa? ‘dari sini dalil bahwaa alat musik itu boleh’.

– jregg, ibnu Jafar TEH SAHA? sahabat aja bukan.. apalagi disana ada ibnu Umar yang bilang, ‘itu alat musik setan, cepet jual budaknya ke aku aja, jangan sampai biarin dia main musik terus.’

– Ibnu Umar aja bilang begitu, ini atsarnya Shahih.

—————————————-

#PART6 -Dalil2 yang keliatannya membolehkan musik-

[1] dalam HR Bukhari. Aisyah punya tmn sepantaran, lagi bawa rebana, dipukul2 sambil nyanyi2. kemudian datang Nabi salallahu ‘alaihi wasallam, dalam kondisi ngga suka, tidur sambil menutup wajahnya dengan kain. datang Abu Bakr, langsung bilang, ‘alat musik setan di rumah Nabi salallahu ‘alaihi wasallam?? apakah pantas ada alat musik setan di rumah Nabi salallahu ‘alaihi wasallam??’.

trus Nabi salallahu ‘alaihi wasallam bilang apa? ‘Abu Bakr, biarkan mereka. hari ini hari Ied. dan semua orang punya Ied-nya, biarkan mereka’.

– Naahh, sebagian ulama termasuk Yusuf Qadrawi menjadikan ini dalil bolehnya alat musik.

– padahal  bukan seperti itu….

– ketika Abu Bakr bilang, ‘apakah pantas alat musik setan ada di rumah Nabi salallahu ‘alaihi wasallam??’. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam TIDAK MENCELA perkataan Abu Bakr itu. setuju, artinya takrir.

– Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam setuju dengan pendapat Abu Bakr itu, tapi Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam memarahi Abu Bakr-nya, kenapa? Karena Abu Bakr ngebentak anak2 kecil. dan itu di hari mina.

– bahasa simpelnya kata para ulama pentakhrij hadis ini (ini bukan perkataan Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, tapi ini menafsirkan ucapan Nabi salallahu ‘alaihi wasallam supaya bahasanya lebih mudah dipahami) :

‘wahai Abu Bakr, pendapatmu bahwa ini adalah alat musik setan adalah pndapat yang aku setujui, itu adalah pndapat yang benar. akan tetapi ini adalah hari mina. dimana di hari ini diperbolehkan rebana bagi anak2 kecil perempuan.’

– jadi yang diperbolehkan : REBANA yang dimainkan ANAK KECIL PEREMPUAN di hari kita Idul Fitri, Idul Adha atau hari2 Mina. dan laki2 ngga boleh main rebana kapanpun. ini TAKRIR. silakan yang belum paham, cari2 lagi bahan apa itu takrir.

[2] dari ibn Umar, Nabi salallahu ‘alaihi wasallam mendngar suara seruling seorang penggmbala kambing, kemudian beliau menutup telinganya dan kemudian beliau mengambil jalan yang lain. Ibn Umar pun mengikuti beliau. Dan Nabi salallahu ‘alaihi wasallam salallahu ‘alaihi wasallam pun ngasih tau ibn Umar, bahwasanya ada suara setan, seruling itu suara setan.

– nah kata Yusuf Qadariawi : kalo emang suling itu haram, maka Nabi salallahu ‘alaihi wasallam ngga cuma nutup telinga, harusnya ngelarang.. bilang ke penyuling kalo suling itu haram, jangan mainan suling.. Tapi Nabi salallahu ‘alaihi wasallam nutup telinga aja lalu  pergi..tanpa ngelarang sang penggembala

– kata para ulama pentahqiq(yang meneliti hadis ini), ada 2 kemungkinan besar (hampir pasti)…

*1* kemungkinan pertama : dia main musiknya dari JARAK YANG JAUH, tapi suaranya terdngar, mungkin banget di gurun, apalagi kalau angin berhembus kencang….

– yang bisa diambil dari hadis ini begini : ngga wajib bagi kita klo ada yang main musik 1km dari tempat kita berdiri sekarang, kita ngingetin NGGA WAJIB, klo ngga ada motor/kndaraan..datang ksana dia udah lari dluan..makanya Nabi salallahu ‘alaihi wasallam tadi tidak melarang..

*2* kemungkinan kedua(paling kuat) : ini adalah hadis yang di-MANSUKH (hadis yang muncul di awal2 Madinah, awal2 Islam)…di awal islam prnah ngga sahabat mabuk di dpn Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam? pernah..Nabi salallahu ‘alaihi wasallam melarang? ngga, karena belum turun ayatnya, jadi belum diharamkan… tapi setelah turun ayatnya,,langsung sahabat “sami’na wa atho’na”..langsung banjir khamr di madinah itu(karena botol2 khamr dipecahin)..

– jadi kemungkinan besar ini terjadi di awal2 Madinah

[3]– ttg ‘tholaal badariu ‘alayna’ ini sepakat ulama, hadisnya DHAIF. MUDHAL : sanadnya terputus dalam dua sanad scra berkesinambungan. jadi jelas hadis mudhal itu ngga bisa diterima.

[4] hadis terakhir yang suka dijadikan dalil. ada seorang budak wanita yang datang ke Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, ‘ya Rasul, aku begitu senang engkau selamat dari perang..aku udah nazar ya Rasul kalau misal engkau datang dengan selamat aku akan menabuh rebana..’,

kata Nabi salallahu ‘alaihi wasallam, ‘laksanakanlah nazarmu’

– kalopun hadis ini shahih, main rebana cm boleh utk 3 waktu : Idul fitri, idul adha, mina | walimahan | ketika menyambut ssorang yang plagi dari perang… Ngga boleh di waktu lain, dan ngga boleh selain rebana..

————————————————-

 

#PART7 -NYANYI TANPA ALAT MUSIK-

– hadisnya sngitu banyak, salah satunya Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘dalam syair itu terkandung hikmah’

– dalam hadis lain : ‘syair itu adalah seperti ucapan’

– banyak dalam riwayat lain. Bilal, Abdurrahman bin Auf nyanyi dengan syair yang indah, bareng sama sahabat yang lain.

– para sahabat ketika bersyair disenandungkan juga, diperindah juga. cuma emang ngga berlebihan

– tapi ngga boleh ada joged2nya..

– jadi, menyanyikan syair syarat2nya:

>pertama tergantung lirik (kalo liriknya bagus boleh),

>kedua ngga boleh pake jejogedan,

>ketiga (paling penting) NGGA BOLEH DINIATKAN IBADAH, tapi klo kita nangis gara2 liriknya itu boleh. kalo bingung misal gini, sy teh lari di saraga 10menit, boleh sepakat? Boleh..tapi kalo pas lari diniatin, tiap langkahnya dapat pahala 1, dan menghapus 1 dosa, itu ngga boleh… itu bid’ah, karena niatnya, bukan karena larinya. tapi kalo sy niat larinya supaya lebih sehat, supaya lebih getol ibadahnya, itu boleh… jadi kalo kita nangis karena liriknya, itu boleh.

– atau contoh lain, sy naik motor, ngantuk. sy nyanyi, biar ngga ngantuk, biar nnt ngga kecelakaan, itu boleh. tapi jangan diniatin dengan nyanyinya doang dapat pahala, itu yang jadi bid’ah

ALHAMDULILLAAH….

sengkap sudah pembahasan tentang musik…